Minggu pagi, 21 Juni 2026. Di saat sebagian besar dari kita mungkin baru saja menyeduh kopi hangat atau masih enggan beranjak dari tempat tidur, kawasan di depan Kantor Walikota dan DPRD Batam sudah riuh rendah.
Bukan karena antrean pasar murah atau festival olahraga, melainkan karena kehadiran ribuan pelajar. Jam baru menunjukkan pukul 06.30 WIB, namun anak-anak ini sudah berbaris rapi di bawah langit pagi, memegang kertas karton berisi tulisan dukungan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sekilas, pemandangan ini tampak seperti aksi solidaritas yang manis dari generasi muda. Namun, begitu kita mendekat dan melihat raut wajah para peserta aksi, ada rasa janggal yang mendadak mengusik logika sehat.
Baca juga: Kadisdik Batam Klarifikasi Keterlibatan Ribuan Siswa dalam Pawai Damai MBG
Aksi hari ini digelar dengan satu narasi besar, meyakinkan publik bahwa program Makan Bergizi Gratis itu sangat penting dan penuh manfaat.
Namun, mari kita tengok fakta di lapangan. Ketika dihampiri, seorang pelajar sekolah menengah pertama (SMP) tampak berulang kali menguap lebar. Matanya masih sayu, menahan kantuk yang luar biasa.
“Belum sarapan dan masih ngantuk,” bisiknya polos.
Di sinilah ironi itu terjadi. Anak-anak ini dikerahkan ke jalanan untuk mengampanyekan pentingnya gizi dan makanan, tetapi mereka sendiri harus berdiri di aspal panas dalam kondisi belum sarapan dan kurang tidur. Sebuah kontradiksi yang sukses membuat dahi mengernyit.













