Gudangberita.co.id, Batam – Pernahkah Anda mendengar nama Simpang Bencong? Bagi warga lama Kota Batam, nama ini mungkin tidak asing di telinga. Namun, seiring dengan masifnya pembangunan infrastruktur dan pelebaran jalan, identitas “nyeleneh” tersebut kini mulai terkikis dan didorong untuk diganti dengan nama yang lebih mengangkat budaya lokal.
Nama “Simpang Bencong” bukanlah sekadar isapan jempol. Menurut penuturan Wijaya, seorang warga Batam, istilah tersebut merujuk pada area yang kini lebih dikenal sebagai Simpang Kuda atau Simpang Sei Panas.
“Ya, Simpang Bencong itu Simpang Bengkong itu. Alias Simpang Kuda,” ujar Wijaya.
Dulu, kawasan yang membentang dari Sei Panas hingga Batu Ampar ini memang identik dengan keberadaan kaum waria (bencong) pada malam hari. Hal itulah yang membuat nama tersebut melekat kuat di benak masyarakat secara turun-temurun sebagai penanda lokasi.
Namun, wajah simpang ini telah berubah total. Aspal yang kian lebar dan penataan kota oleh pemerintah membuat “jejak” lama tersebut perlahan punah, menyisakan nama Simpang Kuda sebagai identitas kekiniannya.
Melihat fenomena penamaan ruang publik yang terkadang jauh dari akar budaya, Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Batam mulai mengambil langkah tegas. LAM merekomendasikan pemerintah untuk memberikan nama-nama simpang dan jalan yang lebih bermarwah dan kental dengan nuansa Budaya Melayu.













