Malam di Desa Batu Gajah itu tidak sekadar diisi suara cengkerik dan desir angin laut. Denting kayu beradu, ritmis dan teratur, mengalun dari halaman rumah tradisional. Alu-alu kayu digerakkan dengan penuh konsentrasi, membuka dan menutup dalam irama yang telah diwariskan turun-temurun. Di sanalah, Permainan Alu Natuna kembali dimainkan, tak hanya sebagai tontonan semata, tetapi sebagai pengingat jati diri.
Permainan tradisional khas masyarakat Melayu Natuna ini digelar oleh Sanggar Dendang Bermadah, sebuah komunitas budaya yang konsisten merawat warisan leluhur di tengah perubahan zaman. Jumat malam (2/1/2026), kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua DPRD Kabupaten Natuna, Rusdi, bersama Kepala Desa Batu Gajah Kurniawan dan Camat Bunguran Timur Suparman.
Bagi Rusdi, permainan Alu bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan identitas budaya yang hidup dan harus terus dijaga. Di hadapan masyarakat dan pelaku seni, ia menekankan bahwa tradisi adalah fondasi yang membentuk karakter sebuah daerah.
“Permainan seperti ini wajib kita jaga dan lestarikan. Ini bukan hanya hiburan, tetapi warisan budaya yang menjadi penanda siapa kita sebagai masyarakat Natuna,” ujarnya.
Lebih jauh, Rusdi menyatakan komitmennya untuk mendukung keberlangsungan seni tradisional, termasuk penyediaan ruang latihan yang layak bagi para pemain Alu. Baginya, tradisi tidak boleh berhenti pada seremoni sesaat.
“Jangan sampai permainan ini hanya menjadi cerita. Alu harus terus dimainkan, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” tegasnya.
Permainan Alu menggunakan alu (alat penumbuk padi dari kayu) yang dialihfungsikan menjadi instrumen permainan. Beberapa orang berdiri berhadapan, menggerakkan alu secara berirama, membuka dan menutup mengikuti pola tertentu. Gerakan yang tampak sederhana itu menuntut ketepatan, konsentrasi, dan kerja sama yang kuat.







