Gudangberita.co.id, Natuna – Program Tol Laut yang disubsidi pemerintah pusat untuk menekan disparitas harga kebutuhan pokok di wilayah perbatasan Kabupaten Natuna dinilai belum memberikan dampak signifikan bagi masyarakat. Hingga akhir 2025, biaya hidup di Natuna masih jauh lebih tinggi dibandingkan daerah lain di Kepulauan Riau maupun Pulau Jawa.
Rahman, warga Ranai, mengungkapkan mahalnya harga makanan sehari-hari di Natuna masih menjadi keluhan utama masyarakat.
“Di Batam Rp12 ribu sudah bisa makan. Di Jawa atau Bali Rp10 ribu di warteg. Tapi di Natuna bisa sampai Rp25 ribu,” ujarnya.
Alih-alih menurunkan harga sembako, muatan kapal Tol Laut justru didominasi agen bermodal besar dengan komoditas material bangunan, sehingga tujuan awal program dinilai melenceng dari sasaran.
Berdasarkan data manifes muatan Tol Laut Oktober–November 2025 yang direkap Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop) Natuna, semen dan material konstruksi menjadi muatan paling dominan. Sementara barang kebutuhan pokok hanya mengisi porsi kecil.
“Tol Laut justru lebih menguntungkan pedagang besar. Muatan paling dominan material bangunan, sementara sembako relatif sedikit,” ujar sumber di lingkungan Disperindagkop Natuna.







