BatamBatam Punya Cerita

Denyut Kehidupan di Balik Mesin Pabrik: Kisah Perempuan Batam yang Tumbuh Bersama PT Esun

124
×

Denyut Kehidupan di Balik Mesin Pabrik: Kisah Perempuan Batam yang Tumbuh Bersama PT Esun

Share this article
Aktivitas pekerja perempuan di PT Esun
banner 468x60

PAGI di Sekupang baru beranjak terang ketika Nurul Hasanah, 25 tahun, sudah bersiap menunggu jemputan. Seragam kerjanya rapi, wajahnya berseri, dan di tangannya ada bekal sederhana, nasi goreng dengan telur. Bagi Nurul, tak ada hari tanpa semangat. Ia berangkat lebih awal, seperti biasa.

“Kalau terlambat, rasanya kayak berdosa,” katanya sambil tersenyum.

BACA JUGA:  Aksi Spontan Sopir Truk di Batam Selamatkan Nyawa Karyawati Muka Kuning di Baloi Kolam

Nurul adalah tulang punggung keluarga. Empat adiknya masih sekolah di Medan. Sejak lulus SMA, ia memilih merantau ke Batam untuk membantu ekonomi orang tuanya. Kini, hampir setahun sudah ia bekerja di PT Esun, perusahaan industri ekspor yang beroperasi di kawasan perdagangan bebas Batam.

Di ruang produksi yang bersih dan berpendingin, Nurul bertugas memeriksa hasil olahan bahan baku sebelum dikemas dan dikirim ke luar negeri. “Awalnya saya takut tak bisa kerja di pabrik. Tapi di sini diajarin dari awal, semua serba kemas,” ujarnya.

BACA JUGA:  Petani di Setokok Batam Tewas Tersambar Petir Saat Berkebun, Satu Korban Luka Berat

Dari gajinya, Nurul membantu biaya sekolah adik-adiknya. “Yang penting mereka bisa terus sekolah. Saya ingin mereka punya masa depan lebih baik,” katanya pelan.

Penyelamat Ekonomi Keluarga

Aktivitas pekerja perempuan di PT Esun

Tak jauh dari tempat Nurul tinggal, di kawasan Marina, Denti Nurhayati, 32 tahun, memulai hari dengan ritme yang sama. Ibu dua anak itu juga bekerja di PT Esun. Suaminya seorang buruh pabrik di perusahaan lain.