- Berujung Pengrusakan Kantor karena LIRA Absen
Kekecewaan warga memuncak karena tidak ada satu pun perwakilan pengurus DPW LIRA Kepri yang menemui mereka untuk memberikan klarifikasi langsung. Situasi yang sempat memanas tersebut dilaporkan berujung pada tindakan anarkis berupa pengrusakan fisik kantor sekertariat LIRA Kepri.
- Pembelaan Yusril Koto: Murni Kontrol Sosial Tanpa Unsur SARA
Menanggapi aksi tersebut, Yusril Koto menegaskan bahwa protes warga salah sasaran. Ia mengklarifikasi bahwa kritiknya murni merupakan fungsi kontrol sosial terhadap penggunaan APBD negara dan menggunakan asas praduga (kata “diduga”). Ia menjamin tidak ada satu pun pernyataannya yang menyinggung sentimen Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA).
- Duduk Perkara Sebenarnya: Masalah Dokumen SPK dan Tagihan Material
Yusril membeberkan kritikannya didasari oleh laporan fakta di lapangan. Rekanan pemasok material (yang juga Bendahara LIRA), Rudi Wijaya, belum menerima pembayaran ratusan juta untuk suplai batu miring sejak September 2025 hingga Mei 2026. Pihak pelaksana berdalih pembayaran mandek karena Surat Perjanjian Kerja (SPK) dari instansi terkait belum terbit, padahal pengerjaan fisik sudah berjalan di lapangan. Hal inilah yang ia sebut sebagai sistem “proyek siluman”.
- Keberadaan Yusril Saat Demo: Perjalanan Dinas Resmi ke Sumatra
Terkait absennya LIRA saat dikepung massa, Yusril menjelaskan dirinya sedang berada di Rao, Pasaman Timur, Sumatra Barat untuk perjalanan darat menuju Medan guna menghadiri HUT LSM LIRA ke-21. Keberangkatannya sejak 8 Juni tersebut legal dan terencana, dilengkapi dokumen resmi dari KPU Bea Cukai Batam serta Ditlantas Polda Kepri yang diurus sejak akhir Mei. Yusril bahkan menduga ada “oknum Dewan” yang mendanai aksi demo tersebut karena gerah proyeknya dibongkar.










