Ironi pun muncul. Di tengah upaya Batam memperkuat sektor pariwisatanya, ikon wisata justru terancam hilang.
Sebelumnya, wisatawan yang ke Batam memilih berfoto di Jembatan Barelang. Namun, kehadiran WTB yang berada di tengah kota menjadikannya pilihan lebih praktis dan populer.
Kini, dengan pembangunan ruko dan apartemen di depan Bukit Clara, spot foto terbaik landmark ini akan sulit diakses. WTB berpotensi hanya menjadi tulisan yang terlihat dari kejauhan.
Ardi berharap pemerintah Batam dapat mencari solusi untuk mempertahankan landmark ini. “Batam butuh ikon wisata yang menarik,” ucapnya.
Namun jika WTB hilang, apakah ada pengganti yang bisa sepadan? Hingga saat ini, belum ada rencana jelas dari pemerintah terkait upaya penyelamatan WTB atau pembangunan destinasi wisata pengganti.
Apakah landmark Welcome to Batam akan menjadi sekadar cerita nostalgia? Ataukah pemerintah dapat menyelamatkannya dari bayang-bayang pembangunan ruko dan apartemen?
Hanya waktu yang bisa menjawab. Yang pasti, jika dibiarkan, Batam berisiko kehilangan salah satu simbol utamanya dalam menarik wisatawan.













