Namun malang, salah satu jemaat perempuan yang dievakuasi paling akhir mengembuskan napas terakhirnya.
“Ada tiga korban yang sempat terjepit. Seluruhnya sudah berhasil dievakuasi. Informasi sementara, korban yang meninggal dunia merupakan salah satu korban yang dievakuasi terakhir. Korban bukan meninggal di lokasi kejadian, tetapi setelah dievakuasi dan mendapatkan penanganan di rumah sakit,” kata Kompol Afiditya, Sabtu (20/6/2026).
Berdasarkan data awal dari pihak kepolisian dan kesaksian penjaga tiket masuk Pantai Melur, petaka ini diduga kuat dipicu oleh gagalnya fungsi pengereman (rem blong) pada bus. Kondisi geografis jalanan yang menurun tajam menuju area pantai membuat pengemudi kehilangan kontrol sepenuhnya atas laju kendaraan.
“Lokasi kejadian berada di jalan menurun sehingga pengemudi tidak dapat mengendalikan kendaraan. Pengemudi tidak sempat mengarahkan kendaraan ke kanan. Kendaraan terus melaju lurus hingga akhirnya masuk ke area tanah dan mengalami kecelakaan,” jelas Kasat Lantas.
Di dalam bus bernasib naas tersebut, diperkirakan terdapat 30 hingga 40 penumpang. Ironisnya, rombongan doa bersama ini juga membawa serta sejumlah anak-anak jemaat gereja yang ikut serta dalam rombongan.










