- Drs. H. Nyat Kadir dianugerahi gelar Dato’ Wira Mahkota Sagara.
- H. Makmur Ismail menerima gelar Dato’ Wira Setia Buana.
Penghargaan itu bukan hanya simbol kehormatan, tapi juga bentuk penghargaan terhadap perjuangan menjaga identitas budaya Melayu di tengah arus modernisasi Batam.
Resonansi di Tengah Masyarakat
Tiga hari berselang, sejumlah tokoh masyarakat menilai Deklarasi Batam Madani harus dijalankan dalam kebijakan nyata, bukan sekadar seremonial. Mereka mendorong agar sumpah setia ini diikuti langkah konkret, terutama dalam meredam potensi gesekan sosial akibat perbedaan suku, budaya, dan agama.
“Pesannya jelas: Batam adalah rumah bersama. Kalau komitmen ini dijalankan, Batam bisa jadi contoh kota toleran dan damai di Indonesia,” ujar salah satu tokoh masyarakat yang hadir.
Meski semarak dengan musik Melayu, atraksi silat, hingga penampilan artis Rojer Kajol, makna yang paling kuat dari Milad ke-25 LAM Batam adalah komitmen kolektif untuk merawat harmoni.
Deklarasi itu kini masih diperbincangkan, menjadi refleksi bahwa perjalanan 25 tahun LAM Batam bukan hanya soal adat, tapi juga peran nyata dalam menjaga persatuan di kota industri sekaligus kota budaya ini.













