Gudangberita.co.id– Sejarah mencatat bahwa Amerika Serikat (AS) tidak pernah main-main dengan ancaman untuk mengakhiri perang secepat mungkin. Di tengah kebuntuan konflik dengan Iran saat ini, bayang-bayang keputusan ekstrem Presiden ke-33 AS, Harry S. Truman, kembali mencuat sebagai pengingat betapa radikalnya langkah yang bisa diambil Gedung Putih saat diplomasi menemui jalan buntu.
Pada Agustus 1945, dunia menyaksikan kekuatan paling mengerikan dalam sejarah peradaban: bom nuklir. Keputusan Truman menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki bukan sekadar strategi militer, melainkan pesan tegas bahwa AS siap mengambil langkah nekat demi memaksa musuh menyerah tanpa syarat.
Jepang kala itu dikenal dengan doktrin tempur sampai mati demi Kaisar. Pentagon awalnya merancang invasi darat besar-besaran yang diprediksi bakal menelan jutaan korban jiwa. Namun, Truman memilih jalur singkat yang mematikan.
6 Agustus 1945: Bom atom “Little Boy” meluluhlantakkan Hiroshima, menelan 70.000 hingga 140.000 nyawa seketika.
9 Agustus 1945: Bom kedua, “Fat Man”, menghancurkan Nagasaki dengan korban jiwa mencapai 80.000 orang.
Efek radiasi jangka panjang menambah derita ratusan ribu warga sipil lainnya. Meski kontroversial dan hingga kini pemerintah AS belum pernah meminta maaf secara resmi, langkah ini berhasil memaksa Kaisar Hirohito menyerah pada 15 Agustus 1945, sekaligus menghentikan Perang Dunia II di Pasifik.













