Dua Faktor Utama Pemicu Pelemahan Rupiah
Merosotnya nilai tukar rupiah hingga ke kisaran Rp18.000 dipicu oleh kombinasi panasnya geopolitik dunia dan rilis data ekonomi AS yang solid. Berikut rinciannya:
- Eskalasi Militer di Timur Tengah Memanas
Investor global kini memilih bermain aman (risk-off) dan beralih ke aset safe haven seperti dolar AS. Meskipun Washington sempat mengumumkan kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon, situasi di lapangan justru kembali membara:
Serangan Rudal Iran: Muncul laporan serangan rudal Iran yang menyasar Kuwait dan Bahrain.
Serangan Balasan AS: Militer AS dilaporkan melancarkan serangan ke Pulau Qeshm milik Iran di dekat Selat Hormuz.
Agresi Israel: Israel terus memperluas operasi militer di wilayah Lebanon selatan.
Kondisi ini memicu kekhawatiran akut pasar terkait potensi gangguan pasokan energi global dan lonjakan harga minyak mentah dunia.
- Suku Bunga The Fed Berpotensi Tertahan Tinggi (Higher for Longer)
Selain faktor perang, ekonomi domestik AS yang tangguh membuat bank sentral AS (The Fed) diprediksi enggan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat.
Pasar Tenaga Kerja Kuat: Laporan ADP mencatat sektor swasta AS menambah 122.000 lapangan kerja pada Mei, melampaui ekspektasi ekonom.
Inflasi Jasa Melonjak: Survei Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan biaya yang dibayar bisnis jasa AS melonjak ke level tertinggi sejak 2022, dipicu mahalnya harga komoditas dan minyak bumi.







