“Kalau ada kapal asing atau hal mencurigakan, kami langsung lapor,” ujar seorang nelayan Serasan.
Di titik ini, PLBN Serasan bukan hanya bangunan negara, tetapi ruang kolaborasi antara aparat dan warga dalam menjaga kedaulatan.
Ketika PLBN Belum Menyentuh Dapur Warga
Namun, cerita PLBN Serasan belum sepenuhnya utuh. Di balik fungsi keamanan yang relatif berjalan, muncul pertanyaan mendasar: sejauh mana PLBN berdampak pada kesejahteraan masyarakat?
Bupati Natuna Cen Sui Lan secara terbuka mengakui, pemanfaatan PLBN Serasan dari sisi ekonomi masih jauh dari harapan. Infrastruktur sudah berdiri, tetapi denyut ekonomi warga belum ikut berlari.
PLBN belum terhubung dengan sektor-sektor utama penghidupan warga Serasan: perikanan, pertanian, UMKM, dan pariwisata. Aktivitas perdagangan lintas batas masih terbatas, bahkan terkesan simbolik.
Salah satu kendala krusial adalah batas transaksi lintas negara yang hanya 600 Ringgit Malaysia atau sekitar Rp2,4 juta per orang per bulan. Angka ini dinilai tidak realistis bagi masyarakat perbatasan yang harus menanggung biaya transportasi laut, logistik, dan operasional tinggi.
Bagi warga, PLBN belum sepenuhnya menjadi pintu ekonomi—lebih sering dipandang sebagai pos penjagaan.













