“MTQH tahun ini terasa berbeda. Ada semangat, motivasi, dan kebahagiaan yang terpancar. Ini adalah bukti bahwa nilai-nilai Qurani bisa bersanding selaras dengan kekayaan budaya kita,” ungkap Amsakar di sela-sela acara.
Amsakar menambahkan bahwa keterlibatan aktif masyarakat dalam kegiatan yang kental dengan nuansa budaya dan religi ini adalah kunci dari tingginya indeks harmoni sosial di Batam. Menurutnya, visi Batam sebagai Bandar Dunia Madani tercermin dari bagaimana warganya merayakan perbedaan dalam bingkai kebersamaan.
“Tingginya keterlibatan masyarakat menunjukkan bahwa visi kita bukan sekadar konsep di atas kertas. Nilai-nilai ini telah tumbuh dan menyatu dalam identitas masyarakat Batam,” jelasnya.
Meskipun dibalut dengan kemeriahan budaya, Amsakar mengingatkan agar esensi utama dari MTQH tidak terlupakan. Ia menegaskan bahwa seluruh pesona visual ini adalah pintu masuk untuk mengajak masyarakat lebih mencintai dan menginternalisasi nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Acara kemudian mencapai puncaknya saat Wali Kota dan jajaran pimpinan daerah menabuh kompang secara serentak. Suara dentuman alat musik perkusi khas Melayu tersebut menggelegar, menandai dimulainya kompetisi yang akan melahirkan generasi Qurani terbaik dari Kota Batam.







