Suasana makin memanas saat manajemen NAM Air menyatakan hanya mengantar snack serta menyediakan sarapan pagi esok harinya di hotel, tanpa mengakomodasi makan malam para calon penumpang yang kelaparan usai terkatung-katung seharian di bandara.
Protes gelombang lanjutan pun tak terelakkan hingga penumpang mendesak pihak maskapai agar jatah makan malam wajib diakomodir penuh oleh manajemen.
“Bukan cuma jengkel karena pembatalan yang serba mendadak dan lambat diumumkan, tapi pelayanan kompensasinya juga sangat mengecewakan,” tambah para penumpang di lokasi.
Berawal dari Kerusakan Teknis dan Menunggu Spare Part
Sebelumnya, penerbangan transit rute Jakarta–Batam–Natuna ini sudah dihinggapi indikasi kendala teknis sejak siang. Agung, salah seorang penumpang asal Natuna, menuturkan bahwa tanda-tanda armada bermasalah terasa ketika penumpang transit dari Jakarta dipaksa turun dari pesawat di Batam—hal yang tak pernah terjadi pada penerbangan normal.
“Biasanya penumpang dari Jakarta tidak perlu turun. Tapi tadi mereka diminta turun semua, dari situ saya sudah prediksi pasti ada masalah,” kata Agung.
Kecurigaan tersebut terbukti saat armada pesawat NAM Air dipindahkan dari apron utama. Petugas lapangan maskapai akhirnya mengakui bahwa pesawat tidak dapat diberangkatkan karena masih menunggu pengiriman suku cadang (spare part) dari Jakarta.














