“Akibatnya, masyarakat menjadi rentan terhadap hoaks, rendahnya produktivitas, lemahnya budaya riset, hingga menurunnya daya saing generasi muda. Indeks literasi bukan sekadar angka statistik tahunan, melainkan cerminan kualitas kehidupan masyarakat suatu daerah,” tegasnya.
Menyoroti kondisi geografis Kepulauan Riau yang didominasi wilayah pesisir dan kepulauan, Harken mengingatkan bahwa pendekatan literasi di Kepri tidak bisa disamakan dengan wilayah daratan. Keterbatasan akses menuntut adanya kebijakan yang adaptif dan inklusif.
Forum TBM Kepri mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri untuk segera mengambil langkah konkret di lapangan, di antaranya:
Revitalisasi TBM dan Perpustakaan Daerah: Mengaktifkan kembali ruang-ruang baca masyarakat.
Pemerataan Distribusi: Mengirimkan bahan bacaan bermutu hingga ke pulau-pulau kecil dan terluar.
Infrastruktur Digital: Penguatan akses internet untuk mendukung gerakan literasi digital yang merata.
Dukungan Komunitas: Memberikan sokongan regulasi dan anggaran bagi komunitas literasi lokal yang bergerak secara swadaya.
Lebih lanjut, Forum TBM Kepri mengingatkan agar pembangunan literasi tidak melulu terjebak pada aspek akademik. Di wilayah Kepri, literasi harus berjalan beriringan dengan penguatan identitas lokal seperti sejarah daerah, budaya Melayu, dan tradisi maritim.













