KepriZona Headline

Menenun Akar di Jantung Kebijakan: Kala Kebudayaan Kepri Tak Lagi Jadi ‘Pemanis’

18
×

Menenun Akar di Jantung Kebijakan: Kala Kebudayaan Kepri Tak Lagi Jadi ‘Pemanis’

Share this article

Ada bau harum masa lalu dan gairah masa depan yang berkelindan saat Ansar Ahmad mengukuhkan Dewan Kebudayaan Kepri pekan lalu. Langkah ini seolah menjawab kegelisahan panjang: akankah Melayu hanya jadi pajangan di museum sejarah? Dengan menempatkan kebudayaan sebagai arus utama pembangunan, sang Gubernur tengah menenun ulang jejaring makna yang sempat rapuh. Ini bukan sekadar merawat akar, tapi memastikan pohon identitas Kepri tetap tegak meski badai modernisasi menerjang tanpa ampun

Suasana pelantikan Dewan Kebudayaan Kepulauan Riau yang dihadiri tokoh budayawan dan pejabat daerah di Gedung Daerah Kepri.
Suasana pelantikan Dewan Kebudayaan Kepulauan Riau yang dihadiri tokoh budayawan dan pejabat daerah di Gedung Daerah Kepri.
banner 468x60

Tantangan besarnya jelas: Bagaimana membuat budaya Melayu tetap “menyala” dan relevan bagi Generasi Z yang jemarinya lebih akrab dengan layar gawai daripada lembar gurindam? Maka, melestarikan saja tidak cukup. Dewan ini memikul mandat untuk mengaktualkan nilai-nilai lama ke dalam ruang digital masa kini.

Gelar “Gubernur Budaya” yang kini melekat pada Ansar Ahmad bukanlah label kosong yang didapat dari baliho. Ia adalah konsekuensi dari pilihan kebijakan yang berani menggeser paradigma. Dari sekadar mengejar angka pertumbuhan ekonomi yang kering, menuju pembangunan yang berakar pada identitas.

BACA JUGA:  Arus Mudik Natuna Memuncak, 2.000 Lebih Penumpang KM Bukit Raya Padati Pelabuhan Selat Lampa

Dato’ Rida K Liamsi pun menegaskan komitmen serupa: Kebudayaan harus menjadi arus utama (mainstream). Ia harus menjadi kompas nilai yang menuntun arah pembangunan agar Kepri tidak kehilangan “jiwa” saat mengejar kemajuan fisik.

Jalan ke depan dipastikan tidak ringan. Teknologi akan terus mendisrupsi cara kita berinteraksi. Namun, seperti petuah lama di bumi Melayu, kekuatan sebuah bangsa tidak hanya pada kemampuannya beradaptasi, tetapi pada keteguhannya menjaga jati diri.

BACA JUGA:  Wujudkan Mimpi Punya Rumah, Pemkab Natuna Gratiskan BPHTB untuk Masyarakat Penghasilan Rendah: Cek Syaratnya!

Pelantikan ini hanyalah awal. Sebuah ikhtiar akal budi untuk memastikan bahwa masyarakat Kepri masih menggenggam erat “peta bahari” dan “peta baharu”-nya.

Editor: Ahmad Farrel