“Mereka ditemukan tanpa alat komunikasi, hanya dengan perbekalan seadanya. Keajaiban,” ujar Kasubsie Siaga dan Operasi Kantor Pencarian dan Pertolongan Natuna, Abdul Rahman.
Kapal Mati, Laut Sunyi, dan Doa Tanpa Henti
Selama empat hari di lautan lepas, keduanya hanya mengandalkan air minum dan makanan ringan yang dibawa dari rumah. Tanpa radio, tanpa sinyal, dan hanya harapan yang menemani malam-malam dingin di tengah laut.
“Kami berdoa terus. Hanya itu yang bisa kami lakukan,” kata seorang anggota keluarga saat penyambutan kepulangan mereka di Desa Munjan.
Nelayan yang menemukannya mengaku tak sengaja melintas di area yang sama saat mengecek rumpon. Kapal korban terlihat diam, tanpa gerak, nyaris tersamarkan kabut dan ombak.
SAR Imbau Warga Patuhi Prosedur Pelayaran
Kepala SAR Natuna menegaskan pentingnya standar keselamatan pelayaran, mulai dari radio komunikasi, HP satelit, hingga pelaporan rute kepada aparat desa.
“Ini pelajaran penting. Bahkan pelayaran singkat bisa berujung bencana jika tidak disiapkan dengan baik,” kata Abdul Rahman.
SAR juga mengapresiasi soliditas antar-lembaga dan peran media yang mempercepat penyebaran informasi. Solidaritas nelayan lokal turut menjadi kunci dalam keberhasilan pencarian ini.







