Agar hal ini tidak terjadi lagi, minggu ini pihaknya akan mengumpulkan seluruh dapur MBG di Batuaji untuk diberikan edukasi ulang tentang standar gramasi.
“Kami akan tegaskan lagi, nasi, mie, maupun kentang harus sesuai takaran. Kami juga akan memperketat pengawasan dapur agar tidak ada makanan basi dan porsinya benar-benar cukup,” tegas Chantika.
Pihak SPPG juga mengakui adanya kelalaian dalam hal ini. Seperti yang diakui Kepala SPPG Pandawa Batuaji, Ramadhan. Ia menyebutkan, menu kentang itu hanya uji coba yang hasilnya tidak sesuai rencana.
Pada malam sebelumnya, tim dapur sudah menyiapkan kentang sebagai pengganti nasi. Namun, saat dicek pagi hari, hasilnya tidak sesuai ekspektasi.
Kondisi tersebut menimbulkan dilema dari pihak SPPG, karena keterbatasan waktu membuat pihaknya tidak memiliki waktu lagi untuk memasak nasi di pagi hari, sehingga tetap memasukkan kentang sebagai pengganti nasi. Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan relawan agar kentang dibanyakkan.
“Prediksi kami harusnya bagus, namun saat dicek paginya hasil masakan itu tidak sesuai harapan. Waktu untuk memasak nasi juga sudah tidak keburu lagi, karena pagi itu harus mempersiapkan makanan untuk 2.800 siswa. Semuanya serba terburu-buru, makin siang stok kentang itu semakin sedikit sehingga relawan memutuskan mengurangi porsi agar target tercapai, ini memang kelalaian kami,” jelasnya.













