Polemik ini menempatkan Gurindam 12 dalam sorotan publik, menjadikannya simbol perlawanan warga Tanjungpinang terhadap komersialisasi ruang publik—sebuah pertarungan mempertahankan identitas dan hak atas kota mereka sendiri.
Gurindam 12 Dijual? Warga Tanjungpinang Siap Pasang Badan!







