Kondisi semakin diperparah oleh laporan teknis dari BMKG Natuna. Prakirawan Asrul Saparuddin mengungkapkan bahwa Natuna saat ini sedang dihimpit oleh dua fenomena iklim sekaligus: El Nino dan Angin Muson Australia.
Kombinasi ini menyebabkan curah hujan merosot tajam sejak Februari. Puncak kekeringan diprediksi terjadi sepanjang Maret hingga April, bahkan berpotensi meluas hingga Mei 2026. Kondisi vegetasi yang mengering membuat lahan di Natuna ibarat “tumpukan korek api” yang siap tersulut kapan saja.
Kecamatan Bunguran Tengah, khususnya kawasan Binjai, kini dipetakan sebagai titik paling rawan karena berbatasan langsung dengan Bunguran Barat dan Selatan. Sebagai langkah taktis, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran, Muhammad Syawal, mengusulkan pembangunan pos penjagaan permanen di titik-titik krusial tersebut.
“Pos ini penting untuk mempercepat response time. Begitu ada kepulan asap, tim bisa langsung bergerak sebelum api menjadi tidak terkendali,” ujar Syawal.
Pemerintah menyadari bahwa faktor alam hanyalah pendukung, sementara pemicu utama tetaplah aktivitas manusia. Melalui rakor ini, disepakati peningkatan patroli terpadu dan edukasi masif kepada masyarakat.
Bupati Cen Sui Lan mengimbau dengan sangat agar warga menghentikan praktik pembersihan lahan dengan cara membakar. Dengan kondisi angin kencang dan lahan kering, satu percikan api kecil bisa berubah menjadi bencana besar yang mengancam pemukiman dan ekosistem Natuna.













