Davin menjelaskan salah satu fokus utama BI adalah penguatan UMKM sebagai tulang punggung ekonomi. BI melakukan pelatihan, pendampingan usaha, pembiayaan, hingga promosi produk UMKM ke pasar yang lebih luas.
“BI ingin pers muda melihat UMKM bukan sekadar objek liputan, tapi bagian strategis dari perekonomian. Jurnalis harus bisa mengangkat cerita dan perjuangan mereka,” jelas Davin.
Pelatihan ditutup dengan materi praktik menulis feature dan membuat ToR (Terms of Reference) liputan yang disampaikan oleh Yogi Eka Sahputra, Ketua AJI Kota Batam.
“Kami kira peserta tidak banyak yang hadir, ternyata antusias mereka sangat tinggi, apalagi dalam materi terakhir merancang ToR liputan, mereka terlihat sangat antusias membuat ToR berkelompok dan mempresentasikannya,” kata Yogi yang juga jurnalis Tempo dan Mongabay Indonesia.
Ia juga menekankan pentingnya liputan mendalam di tengah maraknya misinformasi.
“Tugas jurnalis adalah membersihkan ruang informasi, bukan menambah kebisingan. Tulisan panjang yang mendalam sangat dibutuhkan di era banjir informasi seperti sekarang,” ucapnya.
Yogi menyebut AJI Batam memang menyasar jurnalis muda dan pers mahasiswa terlebih dahulu. Namun, pelatihan untuk jurnalis senior juga terbuka di masa depan. AJI bahkan siap membantu kampus membuat website, pendampingan redaksi, hingga menata ulang pers kampus yang “mati suri”.












