Tanpa dokumen resmi, WH dan MD menikah secara agama, dengan janji bahwa pernikahan mereka akan segera disahkan di KUA. Namun, janji tinggal janji.
Setelah menikah, WH justru meminta MD kembali ke rumah orang tuanya di Kalimantan, sementara ia mengurus “agenda penting” terkait pencalonannya sebagai anggota legislatif.
“Saat itu, saya percaya karena WH terus berkomunikasi dengan ibu saya dan menjanjikan segalanya, termasuk kebutuhan hidup dan pendidikan saya,” tutur MD. Namun, janji tersebut tak ditepati.
Perjuangan Sendiri di Tengah Kehamilan
Saat MD mengetahui dirinya hamil, kehidupan semakin berat. Janji WH untuk mendukung finansial tak kunjung datang, termasuk pembayaran biaya pendidikan MD.
“Saya harus mengurus semuanya sendiri selama kehamilan, bahkan hingga melahirkan. WH tak pernah datang menjenguk atau membantu,” ujarnya lirih.
MD melahirkan seorang anak perempuan pada Oktober 2023. Namun, tanpa dokumen resmi pernikahan, anak mereka tak memiliki akta kelahiran, BPJS, atau akses ke fasilitas kesehatan.
“Saya sedih karena anak saya tak memiliki legalitas. Bahkan untuk imunisasi di puskesmas saja sulit,” kata MD. Ia pun memutuskan untuk kembali menemui WH, berharap ada solusi untuk status anaknya.













