Gudangberita.co.id, Batam – Julukan Kota Investasi kini terasa kontras dengan realitas yang dihadapi sebagian warga Batam. Di tengah geliat industri dan pembangunan, air bersih justru menjadi barang langka.
Dalam beberapa waktu terakhir, banyak warga terpaksa beradaptasi dengan kondisi mati air berkepanjangan, salah satunya dengan membeli dan memasang tandon air di rumah masing-masing.
Nur Hawani, warga Perumahan Tanjung Riau, Kecamatan Sekupang, mengaku selama sekitar enam bulan terakhir air di wilayahnya kerap mati hingga belasan jam. “Biasanya mati dari malam sampai sore. Kadang baru hidup jam sembilan atau sepuluh malam. Kalau tidak punya tandon, tidak bisa mandi dan masak,” ujarnya.
Dengan ruang rumah subsidi yang terbatas, ia terpaksa menyisihkan area gudang untuk menampung tandon air demi kebutuhan sehari-hari, terutama karena memiliki anak kecil.
Kondisi serupa dirasakan warga di Batu Merah dan Batu Ampar. Air tidak hanya sering mati, tetapi juga mengalir dalam kondisi keruh. Devianti, warga Batu Ampar, menyebut air di kawasan tempat tinggalnya mati total hingga tiga hari. “Kami tetap bayar tiap bulan, tapi airnya jarang dapat. Kadang keran dibuka, yang keluar hanya angin,” keluhnya.







