Masalah kualitas air turut memperparah situasi. Sejumlah warga mengaku harus menguras bak mandi hampir setiap hari karena air cepat berubah warna. Saringan air yang baru dipasang pun hanya bertahan bersih dalam hitungan hari sebelum menguning dan dipenuhi kotoran. “Untuk masak kami pakai air galon. Air ini tidak berani dipakai,” ujar Santoni, warga Sungai Harapan. Ia menyebut bak mandi dan gayung cepat menguning meski rutin dibersihkan.
Di media sosial, keluhan warga Batam ramai beredar dengan nada sarkas. Mulai dari sindiran “bayar air plus angin” hingga kritik soal air yang berwarna putih seperti berminyak setelah lama mati. Ada pula warga yang menyebut, di kota yang dikenal sebagai etalase investasi ini, tandon air justru menjadi perlengkapan wajib rumah tangga.
Di tengah krisis tersebut, solusi yang terlihat masih bersifat sementara. Pemerintah bersama PT Air Batam Hilir (ABH) menyalurkan bantuan air bersih menggunakan mobil tangki ke sejumlah wilayah terdampak. Pada Jumat (30/1/2026), pendistribusian air bersih di Kelurahan Tanjung Sengkuang, Kecamatan Batu Ampar, memasuki hari ke-8 dengan pengamanan dari Polsek Batu Ampar dan Polda Kepulauan Riau.
Sebanyak 37 mobil tangki dikerahkan untuk memenuhi kebutuhan warga di beberapa RW. Aparat kepolisian memastikan distribusi berjalan aman dan tertib. Meski demikian, sebagian warga menilai bantuan air tangki belum menjawab akar persoalan. “Ini hanya solusi sementara. Kami butuh air yang mengalir 24 jam dan layak digunakan,” ujar Cindy, warga Batu Merah.







