Menurutnya, digitalisasi bukan sekadar pilihan, tetapi kebutuhan untuk memperkuat jaringan dakwah, meningkatkan mutu pendidikan, dan mempersiapkan generasi emas 2045.
Selain adaptasi teknologi, para tokoh pendidikan Islam juga sepakat memperkuat tiga hal penting:
- Ukhuwah Islamiyah, untuk menghadapi fragmentasi sosial dan tantangan zaman.
- Kolaborasi antar pesantren dan lembaga dakwah, dalam pengelolaan kurikulum, manajemen pendidikan, hingga pertukaran guru dan santri.
- Profesionalitas lembaga pendidikan Islam, agar pesantren mampu bersaing secara nasional maupun global.
“Peran guru dan pendidik itu pahlawan tanpa tanda jasa, mereka adalah pilar bangsa. Dari tangan mereka lahir generasi penerus yang akan memimpin Indonesia,” tambah Rizal Chery.
Tokoh Nasional dan Internasional Hadir di Batam
Multaqo ini turut dihadiri tokoh penting, antara lain:
- Aslam Muhsin Abidin, Lc, Ketua Umum PULDAPII.
- Dr. K.H. Agus Hasan Bashori, Lc., M.Ag, Ketua Dewan Pembina PULDAPII.
- Ahmad Zawawi bin Nawawi, Dipl. PG, sesepuh Yayasan Al Kahfi Batam.
- H. Drs. Edi Safrani, Kabiro Kesra Pemprov Kepri sekaligus Sekum MUI Kepri.
- Syekh Ahmed bin Essa Al-Hazimi, Atase Agama Kedutaan Besar Arab Saudi untuk Indonesia.
Mereka menyampaikan pesan kuat tentang pentingnya menjaga persatuan umat (ukhuwah), memperkuat kualitas pendidikan pesantren, dan memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana dakwah modern.
Sebagai kota dengan akses internasional dan pertumbuhan teknologi yang pesat, Batam dianggap tepat menjadi pusat lahirnya gagasan pembaruan pendidikan Islam di Indonesia.
Multaqo PULDAPII ke-15 menutup rangkaian kegiatannya dengan seruan bersama: menjadikan pesantren dan rumah tahfiz lebih modern, profesional, dan tetap berakhlak Qur’ani.







