“Metode rukyat hilal diterapkan pada tanggal 29 Hijriah untuk melaksanakan contoh Rasul (ta’abudi). Agar rukyat akurat, arahnya dibantu dengan hasil hisab. Hisab bisa digunakan untuk membuat kalender sampai waktu yang panjang di masa depan. Agar hisab merujuk juga pada contoh Rasul, maka kriterianya dibuat sesuai dengan hasil rukyat jangka panjang, berupa data visibilitas hilal atau imkan rukyat (kemungkinan bisa dirukyat),” jelasnya.
Thomas memaparkan perhitungan ini berpotensi menimbulkan perbedaan awal puasa pada Ramadan tahun ini, tapi akan ada kesamaan pada awal bulan Syawal. BRIN memprediksi awal puasa diperkirakan pada 12 Maret 2024 dan Idul Fitri atau 1 Syawal 1445 Hijriah akan jatuh bersamaan pada 10 April 2024.
“Terkait perbedaan yang terjadi lebih karena perbedaan kriteria dan perbedaan otoritas yang belum bisa disatukan, tetapi Kementerian Agama dan Majelis Ulama Indonesia terus mengupayakan adanya persamaan. Perbedaan yang ada harus kita hormati namun upaya untuk mencari titik temu harus kita teruskan,” kata Thomas.
Prediksi Awal Ramadan BMKG
BMKG juga merilis informasi terkait prakiraan awal Ramadan 1445 Hijriah, penentu awal puasa 2024. Menurut laporan BMKG, hasil analisis menunjukkan kemungkinan awal Ramadan 2024 akan berbeda.








