Gudangberita.co.id, Batam – Slogan Batam sebagai “Kota Baru” yang modern dan elit kini terasa semu bagi ribuan warganya. Kolom komentar Fanpage Gudangberita.co.id dibanjiri amarah dan rintihan warga yang setahun belakangan harus berjuang melawan krisis air bersih yang tak kunjung usai.
Dari Tanjung Sengkuang hingga Piayu, warga melaporkan kondisi yang memprihatinkan: mulai dari air yang mati total berbulan-bulan, air berwarna “comberan”, hingga tradisi begadang setiap subuh demi menanti tetesan air.
Antara Air “Amis” dan Janji Manis
Sejumlah komentar netizen menunjukkan betapa dalamnya penderitaan warga akibat pelayanan Air Batam Hilir (ABH) yang dianggap jauh lebih buruk dibanding era sebelumnya.
Riny A. (Tanjung Sengkuang): “Mau mandi mau cebok harus minta air sumur tetangga, angkut galon naik motor sampai pinggang sakit. Batam kota elit tapi ngatasi air aja nggak bisa! Coba kantor Walikota dan DPRD matiin juga airnya biar ngerasain!”
Aldo V. (Piayu): “Piayu nggak pernah mati air, TAPI airnya kayak air comberan. Tiap minggu nguras 200 liter karena coklat pekat.”
Heny Q. (Tanjung Uncang): “Begadang tiap hari nggak tidur gara-gara air. Komplain nggak direspon, akhirnya didemo 2 jilid baru otaknya pejabat terbuka.”













