Meski menghadapi keterbatasan APBD, Amsakar memaparkan sejumlah indikator makro ekonomi Batam yang menunjukkan tren positif. Pertumbuhan ekonomi Batam sepanjang 2025 tercatat 6,6 persen, dan pada triwulan III 2026 diproyeksikan menembus 7 persen.
Dari sisi investasi, Batam berhasil mencatat realisasi sebesar Rp69,3 triliun, atau sekitar 115,5 persen dari target Indikator Kinerja Utama (IKU) sebesar Rp60 triliun. Sementara angka kemiskinan menurun signifikan dari 4,85 persen pada 2024 menjadi 3,81 persen pada 2025.
Tak hanya itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Batam kini berada di angka 83,8, tertinggi di Provinsi Kepulauan Riau. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) juga terus menurun hingga 7,57 persen.
“Capaian ini tidak lepas dari kerja bersama Pemko Batam, DPRD, Forkopimda, serta dukungan dunia usaha. Bahkan, dunia usaha ikut berkontribusi sekitar Rp150 miliar untuk pembangunan sekolah rakyat,” ujar Amsakar.
Namun, Amsakar mengakui masih terdapat persoalan mendasar yang membutuhkan perhatian serius, terutama air bersih, pengelolaan sampah, dan banjir—tiga sektor yang menyedot anggaran besar.
Terkait persoalan sampah, ia menjelaskan bahwa penutupan Zona A TPA Punggur sempat memicu antrean panjang armada pengangkut. Pemko Batam kemudian mengambil langkah cepat melalui Dana Belanja Tidak Terduga (BTT), optimalisasi Zona B, serta dukungan dunia usaha berupa pengerasan akses jalan menuju TPA senilai Rp3–4 miliar.














