Amsakar pun bagaikan bukan siapa-siapa dan bagaikan tercampak di titik nol menuju pilkada Batam. Dia diyakini tak akan mampu memenuhi biaya politik untuk mendapatkan dukungan partai-partai dan melakukan sosialisasi luas ke masyarakat.
Namun anehnya, popularitas pria yang terkenal dengan pantun Burung Kenek-kenek itu tetap tinggi. Elektabilitasnya masih diatas Marlin Agustina dan nama-nama lainnya.
Kemunculan Li Claudia Chandra yang memutuskan berpasangan dengan Amsakar langsung “meruntuhkan” benteng politik yang sudah mengerucut pada satu pasangan calon. Partai-partai seperti berbelok arah mendukung Amsakar-Li Claudia.
Dari bawah akhirnya sampai ke puncak. Itulah Amsakar saat ini. Kerendahan hati dan kesabarannya menghadapi “kezaliman politik” berbuah keberkahan. Terlepas dari konstelasi politik tingkat pusat, Amsakar yang tak banyak dukungan logistik malah mampu meraih dukungan hampir seluruh partai politik.
Sejarah baru dalam pilkada Kota Batam pun tercipta. Mayoritas partai politik bersepakat pada satu pasangan calon sehingga diperkirakan hanya ada pasangan tunggal di pilkada Batam. Menariknya, konsensus partai politik itu bukan pada pasangan yang “banyak modal” tapi pada figur yang dianggap “miskin modal” sehingga mematahkan anggapan politik uang yang selama ini merusak kultur demokrasi dalam tatanan partai politik. Selamat ulang tahun Amsakar Ahmad!













