EkonomiZona Headline

Struktur Ekonomi Indonesia Didominasi Oligarki, Pengamat: Deindustrialisasi yang Lebih Bahaya dari Dutch Disease

327
×

Struktur Ekonomi Indonesia Didominasi Oligarki, Pengamat: Deindustrialisasi yang Lebih Bahaya dari Dutch Disease

Share this article
Ilustrasi
banner 468x60

Gudangberita.co.id – Pemerintah mengakui, Indonesia telah terpapar dutch disease pasca 2002. Namun, penyakit yang merusak struktur perekonomian Indonesia itu lebih buruk dari sekedar Penyakit Belanda itu.

Analis Senior Indonesia Strategic and Economics Action Institution Ronny P Sasmita menjelaskan, ada perbedaan mendasar dutch disease yang melanda Indonesia, dengan yang dialami Belanda, sebagai negara yang mendasari munculnya istilah dutch disease pada 1977.

BACA JUGA:  LBH Natuna Gugat Polres di Sidang Praperadilan, Prosedur Penetapan Tersangka Diuji

Ronny menjelaskan hal itu sebagai respons pernyataan Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas Amalia Adininggar Widyasanti terkait dutch disease yang dialami Indonesia, dalam acara Peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia 2023 yang digelar Bank Indonesia di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, dutch disease yang dialami Belanda pada era 1970-an itu lebih disebabkan deindustrialisasi karena nilai tukar. Pada era itu Belanda menemukan cadangan gas yang besar, sehingga mereka mengeksplorasi, memproduksi, dan mengekspornya secara besar-besaran.

BACA JUGA:  Ekonomi RI Tumbuh 5,39%: Apa Dampaknya Bagi Lapangan Kerja dan Kantong Warga di Tahun 2026?

“Karena jumlahnya banyak, maka ekspornya pun besar, sehingga Belanda ketiban devisa besar dalam bentuk dollar,” kata Ronny via CNBC Indonesia, Kamis (1/2/2024).

Besarnya cadangan devisa yang dinikmati Belanda karena ekspor besar-besaran sumber daya alam gas itu, otomatis membuat mata uang Belanda saat itu, yakni Gulden menguat tajam, membuat ekspor manufakturnya mendadak tidak kompetitif karena mahal.