OpiniPendidikan

Literasi Bukan Sekadar Soal Anggaran

0
×

Literasi Bukan Sekadar Soal Anggaran

Share this article
Harken
banner 468x60

Ada satu pertanyaan yang hampir selalu hadir setiap kali literasi dibicarakan; “Berapa anggarannya?” Seolah-olah ukuran maju atau mundurnya literasi hanya ditentukan oleh besarnya anggaran yang tersedia, cara pandang seperti ini perlu untuk diluruskan. Bukan karena anggaran tidak penting, tetapi karena menjadikan anggaran sebagai pusat dari segala persoalan justru mengaburkan hakikat literasi itu sendiri.

Literasi bukanlah proyek, literasi adalah peradaban. Peradaban tidak pernah dibangun hanya dengan uang, peradaban dibangun oleh manusia-manusia yang memiliki kesadaran, keberanian berpikir, semangat belajar, kolaborasi, adatif dan kemauan untuk berbagi ilmu pengetahuan. Literasi lahir ketika seseorang membaca untuk memahami, menulis untuk memberi makna, berdiskusi untuk menemukan kebenaran, serta bertindak berdasarkan ilmu yang dimilikinya, di situlah hakikat literasi sesungguhnya.

Jika literasi hanya dipahami sebagai program yang bergantung pada besaran anggaran, maka gerakan literasi akan berhenti setiap kali anggaran tidak tersedia. Namun jika literasi dipahami sebagai budaya, maka literasi akan tetap hidup selama masih ada orang yang bersedia membaca satu buku, mendongeng kepada satu anak, membuka ruang diskusi, atau meminjamkan sebuah buku kepada mereka yang membutuhkan.

Tidak ada yang menyangkal bahwa anggaran memiliki peran penting. Perpustakaan membutuhkan koleksi, Taman Bacaan Masyarakat memerlukan sarana, pelatihan membutuhkan biaya, dan berbagai program tentu memerlukan dukungan anggaran. Namun, persoalan literasi tidak pernah selesai hanya dengan menghadirkan anggaran, sebaliknya, tidak sedikit gerakan literasi yang justru lahir dari ruang-ruang sederhana, dari rumah-rumah kecil, dari teras dari beranda masjid, dari pos ronda, dari sekolah-sekolah, bahkan dari orang-orang yang tidak memiliki anggaran besar, tetapi memiliki kepedulian yang besar.

BACA JUGA:  PPDB Batam 2026: Anak Belum Punya KIA Tetap Bisa Daftar Sekolah, Cek Jadwal Lengkap SPMB SD-SMP Disini!

Literasi pada dasarnya adalah budaya. Budaya tidak dibangun oleh uang semata, melainkan oleh kebiasaan, keteladanan, komitmen, dan konsistensi. Tidak ada anggaran yang mampu memaksa seseorang mencintai membaca jika lingkungan di sekitarnya tidak memberikan contoh. Tidak ada dana yang dapat membeli rasa ingin tahu. Tidak ada proyek yang mampu menggantikan kebiasaan berdiskusi dalam keluarga. Semua itu tumbuh melalui proses yang panjang dan melibatkan kesadaran kolektif.

Sering kali kita lupa bahwa anak pertama kali mengenal literasi bukan di perpustakaan, melainkan di rumah. Anak belajar mendengar cerita dari orang tua, melihat kebiasaan membaca, memperhatikan bagaimana orang dewasa berbicara, bertanya, dan menghargai pengetahuan. Semua itu berlangsung tanpa proposal kegiatan dan tanpa pos anggaran. Yang bekerja adalah perhatian, kasih sayang, dan keteladanan.

Begitu pula dengan komunitas literasi, banyak Taman Bacaan Masyarakat bertahan bertahun-tahun karena semangat para relawan. Mereka mengumpulkan buku dari donasi, memanfaatkan ruang yang tersedia, mengajar tanpa bayaran, dan terus bergerak karena percaya bahwa membaca mampu mengubah masa depan seseorang. Mereka tidak menunggu anggaran turun untuk mulai bergerak, mereka bergerak terlebih dahulu, lalu perlahan membangun kepercayaan masyarakat hingga akhirnya dukungan datang.

Jika literasi selalu dipandang dari perspektif anggaran, maka kita berisiko melahirkan budaya menunggu. Menunggu bantuan pemerintah. Menunggu hibah. Menunggu sponsor. Menunggu proyek. Padahal, budaya menunggu adalah lawan dari budaya literasi. Literasi mengajarkan inisiatif, kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, serta keberanian mencari jalan keluar di tengah keterbatasan.

BACA JUGA:  Peletakan Batu Pertama SMKN 13 Batam, Amsakar Dorong Pemerataan Akses Pendidikan Berkualitas

Ironisnya, kita sering menemukan gedung perpustakaan yang megah tetapi sepi pengunjung. Rak-rak buku tersusun rapi, fasilitas lengkap, bahkan anggaran operasional tersedia. Namun, aktivitas membaca tidak tumbuh sebagaimana yang diharapkan. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan sekadar fasilitas, melainkan bagaimana menghadirkan budaya membaca sebagai kebutuhan hidup.

Infrastruktur tanpa budaya hanya akan menjadi bangunan. Anggaran tanpa gerakan hanya akan menjadi laporan.

Di sisi lain, kita juga menyaksikan kelompok-kelompok kecil yang berkumpul setiap pekan untuk membaca buku, berdiskusi, mendongeng kepada anak-anak, atau membuka lapak baca di ruang publik. Mereka mungkin tidak memiliki dana besar, tetapi memiliki semangat yang mampu menggerakkan banyak orang. Kehadiran mereka membuktikan bahwa modal sosial sering kali lebih kuat daripada modal finansial.

Bukan berarti anggaran tidak penting. Justru anggaran akan memberikan hasil yang jauh lebih besar ketika bertemu dengan komunitas yang hidup, relawan yang berdedikasi, dan masyarakat yang memiliki kesadaran literasi. Dana seharusnya menjadi penguat gerakan, bukan pengganti semangat. Ketika semangat tidak ada, sebesar apa pun anggaran yang diberikan akan sulit menghasilkan perubahan yang berkelanjutan.

Sudah saatnya cara pandang terhadap literasi diubah. Pertanyaan kita bukan lagi, Berapa anggarannya?” melainkan, “Apa yang bisa kita lakukan dengan sumber daya yang kita miliki?”, Pertanyaan kedua akan melahirkan kreativitas, kolaborasi, dan inovasi. Sementara pertanyaan pertama sering kali berakhir pada daftar alasan.

BACA JUGA:  Menguap di Depan Kantor Walikota, Cerita Pelajar Batam yang Kehilangan Hari Minggu Demi Aksi MBG

Literasi adalah tentang membangun manusia. Membangun manusia tidak pernah dimulai dari angka dalam dokumen anggaran, tetapi dari cara berpikir, cara bersikap, dan kemauan untuk terus belajar. Anggaran dapat membeli buku, tetapi tidak dapat membeli minat baca. Anggaran dapat membangun perpustakaan, tetapi tidak dapat membangun rasa ingin tahu. Anggaran dapat membiayai pelatihan, tetapi tidak dapat menggantikan keteladanan.

Ketika kita berbicara tentang masa depan literasi Indonesia, mari berhenti menjadikan anggaran sebagai satu-satunya ukuran keseriusan. Literasi membutuhkan kebijakan, tentu. Literasi membutuhkan dukungan pendanaan, tentu. Namun, lebih dari itu, literasi membutuhkan manusia-manusia yang percaya bahwa membaca, belajar, berpikir kritis, dan berbagi pengetahuan adalah bagian dari peradaban.

Pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat berapa besar anggaran yang pernah dialokasikan untuk literasi. Sejarah akan mengingat siapa yang tetap menyalakan cahaya pengetahuan ketika keadaan serba terbatas. Sebab, anggaran dapat memulai sebuah program, tetapi hanya komitmen yang mampu melahirkan sebuah budaya. Dan budaya literasi selalu lahir dari manusia yang memilih bergerak, bahkan ketika sumber daya yang dimilikinya tidaklah sempurna.

Harken,
Ketua Pengurus Wilayah Forum Taman Bacaan Masyarakat
Kepulauan Riau