Gudangberita.co.id, Batam – Evaluasi total terhadap struktur biaya logistik di Batam mulai membuka tabir masalah mendasar dalam rantai pasok kawasan Free Trade Zone (FTZ). Rute pelayaran logistik Batam-Singapura yang menjadi urat nadi perekonomian daerah ternyata masih dibayangi oleh tingginya biaya operasional di luar komponen tarif resmi otoritas pelabuhan. Struktur pengeluaran yang tidak seimbang ini disinyalir menjadi alasan kuat di balik alotnya perumusan tarif baru di lapangan.
Fakta mengejutkan ini mengonfirmasi mengapa Badan Pengusahaan (BP) Batam mendadak melunak dan terpaksa menunda implementasi penyesuaian tarif layanan peti kemas di Terminal Peti Kemas (TPK) Batu Ampar hingga 31 Agustus 2026.
Penundaan yang diputuskan setelah dialog alot bersama asosiasi pelaku usaha pada Kamis (25/6/2026) tersebut menjadi bukti nyata bahwa beban logistik di lapangan sudah berada di titik jenuh.
Selama ini, kebijakan kenaikan tarif pelabuhan kerap dituding sebagai biang keladi mahalnya ongkos pengiriman barang. Namun, data terbaru yang dipaparkan dalam koordinasi bersama dunia usaha justru membuka peta riil hilir mudik keuangan logistik kawasan.
Komponen tarif pelayanan TPK Batu Ampar yang dikelola langsung oleh BP Batam ternyata hanya berkontribusi sebesar 18 persen terhadap total biaya logistik Batam-Singapura.







