Lantas, ke mana larinya sisa 82 persen anggaran yang dikeluarkan para investor?
Angka mayoritas tersebut terbukti habis tersedot oleh biaya operasional kapal pengumpan (feeder) serta ongkos alih muat (transshipment). Tingginya angka tersebut memperlihatkan ketergantungan logistik Batam yang masih sangat besar terhadap ekosistem pelayaran internasional di Singapura.
Modernisasi Alat yang Berujung Simalakama
BP Batam sebenarnya mencoba membela diri dengan menyodorkan rapor operasional per Januari-Mei 2026.
Volume bongkar muat di TPK Batu Ampar diklaim tumbuh 16 persen mencapai 222.131 TEUs, disokong oleh kecepatan bongkar muat yang kini menyentuh 40 box per jam berkat digitalisasi dan alat baru.
Namun, bagi para pelaku logistik dan asosiasi pengusaha, percepatan durasi di dalam pelabuhan menjadi tidak berlapis makna jika pengeluaran di luar gerbang tambat kapal tetap mencekik margin bisnis.
Kenaikan tarif pelabuhan meski kontribusinya kecil, dianggap sebagai beban tambahan yang tidak sensitif terhadap situasi makro ekonomi industri FTZ.
Mundurnya pemberlakuan tarif hingga akhir Agustus 2026, ditambah kewajiban BP Batam mengembalikan (refund) selisih uang bagi pengguna jasa yang terlanjur membayar tarif baru, menjadi ruang bernapas sementara bagi dunia usaha.







