Gudangberita.co.id, Karimun – Suasana haru menyelimuti Pelabuhan Tanjung Balai Karimun pada Minggu (12/4/2026) malam. Dua nelayan lokal, Supianto dan Zulkifli, akhirnya bisa kembali menghirup udara di tanah air setelah melewati masa kritis selama 12 jam, terombang-ambing di tengah ganasnya laut lepas hingga masuk ke wilayah Malaysia.
Perjalanan mereka yang semula rutin mencari nafkah, berubah menjadi perjuangan hidup mati akibat kegagalan mesin dan cuaca buruk yang ekstrem.
Segala petaka bermula pada Sabtu malam. Saat itu, Supianto dan Zulkifli sedang melaut di sekitar perairan Tokong Hiu. Namun, di tengah kegelapan malam, mesin kapal mereka tiba-tiba mengalami kerusakan parah (jammed).
Tanpa tenaga mesin, kapal mereka menjadi tak berdaya saat hujan deras dan badai mulai menghantam. Di bawah guyuran hujan yang membutakan pandangan, arus laut yang kuat mulai menyeret mereka menjauh dari daratan Karimun.
Selama lebih dari 12 jam, kedua nelayan ini hanya bisa pasrah mengikuti arah arus. Tanpa kendali, kapal mereka terseret sejauh 20,73 mil laut (sekitar 38 kilometer) hingga melintasi batas negara dan masuk ke wilayah Kukup, Malaysia.
Informasi darurat ini baru terdeteksi setelah Ketua Nelayan KUB Selayang Laut, Bapak Wito, melaporkan hilangnya kontak dengan korban kepada pihak Polairud Karimun dan Kantor SAR Tanjungpinang.







