Di Natuna, Kepulauan Riau, Gunung Ranai bukan sekadar latar swafoto atau penanda arah pulang. Gunung ini juga menjadi “alamat resmi” sebuah legenda lama yang masih rajin dibicarakan: Orang Bedung
Mereka tidak punya KTP, tak pernah antre BBM, tapi namanya selalu muncul setiap kali ada cerita yang sulit dijelaskan dengan logika sederhana.
Legenda Orang Bedung hidup turun-temurun di tengah masyarakat Natuna. Konon, mereka adalah warga kampung di sekitar Gunung Ranai pada zaman dulu, yang nyaris menjadi korban serangan lanun. Karena tak ingin pertumpahan darah, warga berdoa dengan satu permintaan ekstrem: selamat, apa pun risikonya.
Doa itu, menurut cerita, dikabulkan. Mereka selamat—dengan harga mahal—menjadi tak kasatmata. Lanun gagal menemukan kampung itu, dan sejak saat itu, Orang Bedung dipercaya hidup “bersebelahan” dengan manusia biasa, hanya berbeda dimensi penglihatan.
Sampai di sini, cerita masih terdengar seperti dongeng pengantar tidur. Tapi orang Natuna punya cara khas memperlakukannya: tidak sepenuhnya dipercaya, tapi juga tidak ditertawakan mentah-mentah.
Orang Bedung: Tetangga Tak Terlihat, Tapi Konon Tajir
Dalam cerita rakyat, Orang Bedung bukan sekadar makhluk halus penggembira imajinasi. Mereka digambarkan hidup normal: bertani, membangun kota, bahkan punya bala tentara. Singkatnya, mereka versi “super” dari manusia biasa.
Salah satu kisah favorit warga Ranai adalah soal pembelian mobil truk satu kapal tongkang penuh dari Kalimantan. Ceritanya, dealer heran karena ada “orang Natuna” yang membeli truk dalam jumlah besar, tanpa pernah terlihat siapa pemiliknya.







