harris
Opini

26 Tahun Natuna: Negeri Dewasa yang Masih Bergantung

104
×

26 Tahun Natuna: Negeri Dewasa yang Masih Bergantung

Share this article
Riky Rinovsky
banner 468x60

Cerita seperti Maruji bukan satu dua. Banyak pelaku ekonomi kecil menggantungkan hidupnya dari geliat pembangunan pemerintah. Ketika efisiensi anggaran diberlakukan, peredaran uang pun tersendat, dan ekonomi rakyat lumpuh.

Inilah titik yang saya sebut sebagai ketergantungan yang belum terobati. Setelah 26 tahun berdiri, seharusnya Natuna telah menemukan formula untuk menumbuhkan kemandirian ekonomi daerah. Namun, yang terjadi justru sebaliknya: ekonomi masih sangat bergantung pada proyek dan program pemerintah.

BACA JUGA:  Jangan Jadikan Kepala Sekolah ATM Berkedok Kontrol Sosial

Sebelum efisiensi anggaran, geliat pembangunan terasa hingga ke pelosok. Kini, banyak sektor tersendat, dan masyarakat harus bertahan di tengah minimnya lapangan kerja baru.

Sebagai bagian dari masyarakat Natuna, saya melihat ulang tahun ke-26 ini seharusnya menjadi refleksi, bukan sekadar selebrasi. Masyarakat sudah lelah dengan janji. Mereka membutuhkan tindakan nyata.

Pemerintah daerah mesti berani menjawab keresahan ini dengan kebijakan yang menumbuhkan ekonomi produktif: memperkuat UMKM, menghidupkan kembali sektor perikanan, membuka akses pasar, dan mengurangi ketergantungan terhadap anggaran pusat.

BACA JUGA:  Ancaman Mangkrak Nyata! Ini 4 Risiko Hukum yang Bisa Hentikan Pembangunan Pasar Induk Jodoh

Natuna tidak boleh terus menjadi penonton di panggung pembangunan. Di usia yang ke-26 ini, semestinya kita berdiri sebagai pemain—mandiri, tangguh, dan mampu menyejahterakan rakyatnya sendiri.