Kondisi yang lebih memprihatinkan disampaikan oleh Renta, warga Batam lainnya. Ia menyebut kualitas air saat ini sudah jauh dari kata layak untuk dikonsumsi maupun digunakan untuk sanitasi. “Air butek, ada jentik, dan ada lumut,” tulisnya singkat.
Krisis kualitas air ini rupanya bukan hal baru bagi sebagian warga. Di Perumahan PKJ Bengkong, kondisi air keruh dan aliran kecil dikabarkan sudah menjadi “makanan” sehari-hari, bahkan sebelum hujan deras Sabtu kemarin melanda.
Menanggapi penurunan kualitas pelayanan ini, gelombang kritik dari netizen mulai membanding-bandingkan kinerja pengelola air Batam saat ini (PT Air Batam Hilir/ABH) dengan masa konsesi PT Adhya Tirta Batam (ATB) terdahulu.
“Kami di Bengkong Perum PKJ setiap hari seperti itu. Dulu waktu ATB airnya bersih. Semenjak ganti pengelola ini airnya kotor dan kecil alirannya,” cetus Eka, diamini oleh warga Punggur bernama Nanie yang menilai kualitas air saat ini jauh di bawah standar.
“Kirain cuma di Punggur airnya begini. Macam air danau asli gak ada penyulingan lagi. Dulu masa ATB yang pegang airnya bening dan segar,” tambah Nanie.
Akibat kekecewaan yang menumpuk dan dinilai lamban diantisipasi, sejumlah warga bahkan mulai menyuarakan aksi protes yang lebih keras demi mendesak manajemen pengelola air segera melakukan pembenahan total pada sistem penyulingan mereka.













