Tak hanya sekadar nongkrong dan berdiskusi, Ustaz Firdaus juga rutin menginisiasi kegiatan ibadah bersama warga. Almarhum kerap mengajak jemaah berziarah ke makam ulama-ulama Betawi setiap bulan, hingga rutin mengadakan konvoi ziarah menjelang bulan Ramadan.
Hal yang membuat jemaah kian tersentuh adalah aktivitas almarhum beberapa saat sebelum mengembuskan napas terakhir. Fairus menceritakan bahwa pada hari yang sama sebelum almarhum pingsan saat ceramah, sang ayah masih sempat mengirimkan pesan ajakan kebaikan melalui grup WhatsApp (WA) warga.
“Bahkan sebelum almarhum mengembuskan napas terakhir aja almarhum masih WA sama sekitar, nge-share ke grup ajakan kegiatan, ‘Ayo, ayo istigasah, ayo istigasah.’ Ternyata saat itu almarhum mengembuskan napas terakhir,” kenang Fairus emosional.
Karakter Ustaz Firdaus yang merakyat juga diakui oleh warga sekitar, Jamaludin (53). Bagi Jamaludin dan para pemuda majelis, almarhum bukan sekadar tokoh agama yang disegani, melainkan sosok pengayom yang merangkul semua kalangan tanpa memandang usia.
“Saya menganggap beliau itu seperti kakak, guru, teman nongkrong juga. Beliau tidak membeda-bedakan mana yang muda, mana yang tua. Di mata beliau sama semua,” ujar Jamaludin.







