Sementara itu, fase spin-off kedua ditargetkan rampung sepenuhnya pada 2026, dengan proses yang dilakukan secara transparan, penuh kehati-hatian, serta mematuhi ketentuan hukum dan peraturan yang berlaku.
Pasca transaksi, kepemilikan saham efektif Telkom di InfraNexia meningkat menjadi 99,9999997 persen, mempertegas posisi Telkom sebagai Pemegang Saham Pengendali. Meski demikian, InfraNexia menegaskan komitmennya untuk beroperasi secara netral, menyediakan layanan wholesale fiber connectivity baik kepada pelanggan internal TelkomGroup maupun pihak eksternal.
Direktur Utama Telkom Dian Siswarini mengatakan, pemisahan bisnis ini merupakan bagian dari strategi transformasi TLKM 30 dalam mengoptimalkan monetisasi aset strategis guna mempercepat penciptaan nilai perusahaan.
“Pemisahan bisnis wholesale fiber connectivity ke InfraNexia merupakan langkah strategis untuk meningkatkan fokus bisnis, efisiensi operasional, dan nilai tambah dari aset infrastruktur fiber TelkomGroup,” ujar Dian.
Menurutnya, melalui InfraNexia sebagai entitas yang berfokus pada pengelolaan dan pengembangan infrastruktur fiber, Telkom dapat mempercepat penetrasi jaringan, memperbaiki tata kelola model bisnis wholesale, serta membuka peluang kemitraan strategis untuk mendukung pemerataan konektivitas digital nasional secara lebih efisien.













