Meski tanpa seremoni, proses seleksi justru dibuat lebih kompetitif dan inklusif. LPTQ Natuna memanfaatkan teknologi penilaian daring via Zoom dan pengiriman video untuk menyisir talenta terbaik dari seluruh kecamatan.
Menariknya, strategi ini juga membuka pintu bagi putra-putri asli Natuna yang sedang menempuh pendidikan di luar daerah untuk ikut seleksi. Hal ini membuktikan bahwa target Natuna bukan sekadar menggugurkan kewajiban partisipasi, melainkan membentuk tim “super” yang mampu memperbaiki peringkat daerah di tingkat provinsi.
Dengan durasi TC minimal satu bulan—lebih lama dari tahun-tahun sebelumnya—kafilah Natuna diharapkan memiliki kematangan mental dan teknik yang lebih baik. Namun, strategi “hemat” ini tetap menyisakan pertanyaan: Apakah absennya euforia kompetisi di tingkat kabupaten akan memengaruhi mental tanding para peserta?
Publik kini menanti apakah pengalihan dana operasional seremoni ke biaya pembinaan ini benar-benar akan berbuah manis di Tanjung Pinang, atau justru menjadi catatan evaluasi baru bagi pola pembinaan prestasi keagamaan di Bumi Laut Sakti Rantau Bertuah.







