Kepada generasi wartawan hari ini, yang bekerja di tengah tekanan ekonomi, polarisasi, dan kebisingan digital, Cak Iban tidak menawarkan jalan pintas. Ia justru mengajak kembali pada nilai dasar profesi.
“Tetaplah menjadi wartawan yang profesional, berintegritas, dan kompeten,” terang dia, benderang.
Cak Iban mengibaratkan wartawan sebagai rajawali: burung yang berani terbang sendiri, menjelajah cakrawala luas, tidak takut pada langit mendung, bahkan pada gelap sekalipun. Rajawali tahu arah dan percaya pada sayapnya sendiri.
Dalam perumpamaan itu tersimpan pesan yang tegas, bahwa wartawan yang waras dan jujur adalah mereka yang tidak menggantungkan nurani pada kerumunan, tidak kehilangan arah oleh tekanan, dan tetap setia pada kompas etiknya, walau angkasa tengah muram.
Yang Ingin Dikenang
Di balik seluruh perjalanan profesional itu, Cak Iban diam-diam menyimpan harapan yang sangat sederhana. Jika suatu hari ia tak lagi menulis berita, ia tidak ingin dikenang sebagai tokoh besar atau wartawan legendaris.
“Saya cuma ingin dikenang sebagai sahabat, teman ngopi yang menyenangkan, teman diskusi, dan hamba Allah SWT yang dhaif.”
Tidak ada keinginan untuk meninggalkan monumen nama. Yang diharapkan hanyalah kehadiran yang membekas secara manusiawi, di meja kopi, pada ruang obrolan, dan dalam ingatan orang-orang yang pernah berjalan bersamanya.








