Rute pertama Lion Air adalah Jakarta-Pontianak dengan harga Rp 300 ribu. Harga tersebut jatuh di bawah harga kompetitor yang mematok tarif seharga Rp 1,1 juta. Lalu, tak lama berselang dibuka juga rute Jakarta-Manado yang biasanya seharga Rp 2,1 juta dibuat menjadi Rp 400 ribu.
Awalnya banyak yang menduga bisnisnya bakal bangkrut, tetapi kenyatannya tidak. Malah, Lion Air makin moncer karena jadi alternatif masyarakat untuk bisa terbang.
Pada 2004 Lion Air sudah mengoperasikan 23 pesawat terbang. Tiap harinya Lion Air melayani dengan 130 penerbangan di Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Vietnam. Jumlah pesawat pun kemudian juga terus bertambah lagi.
Sebelum pandemi, pesawat-pesawat Lion Air mendominasi terminal 1 di Bandara Soekarno-Hatta. Sebab, Lion Air juga membawahi beberapa maskapai seperti Wings Air, Batik Air, Lion Bizjet, Malindo Air (Malaysia), dan Thai Lion Air (Thailand).
Kesuksesan inilah membuat Lion Air menyebut dirinya sebagai maskapai penerbangan berbiaya rendah. Jargonnya “We Make People Fly.”
Bahkan, pada 2018 tercatat maskapai ini sudah mengangkut 36,8 juta penumpang. Atau secara persentase menjadi pilihan 35% penumpang yang ingin berpergian dari pulau ke pulau, dari kota ke kota.











