harris
Nasional

Bukan untuk Negara! Eks Kompolnas Bongkar Ada ‘Tuan Besar’ Lain di Balik Operasi Sadap Listyo Sigit

35
×

Bukan untuk Negara! Eks Kompolnas Bongkar Ada ‘Tuan Besar’ Lain di Balik Operasi Sadap Listyo Sigit

Share this article
Presiden Prabowo Subianto memanggil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Listyo Sigit Prabowo di kediaman pribadinya di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Jumat, (24/4/2026)
Presiden Prabowo Subianto memanggil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Listyo Sigit Prabowo di kediaman pribadinya di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Jumat, (24/4/2026). (Foto: dok. ist)
banner 468x60

Meski bertindak untuk ‘pihak lain’, Adrianus meyakini bahwa Listyo Sigit tidak bisa lepas tangan. Kepangkatan tertinggi yang disandangnya menempatkan LSP sebagai otak utama dalam anatomi kejahatan ini.

“Saya kira pendekatan pangkat menentukan siapa yang paling bersalah. Yang pangkatnya paling tinggi tentu bisa diduga menjadi intellectuelle dader (aktor intelektual), sekaligus paling punya motif dan tujuan. Kalau setelah ini masih ada lagi yang jadi tersangka, kemungkinan hanya jajaran pelaksana saja,” jelasnya.

BACA JUGA:  Diduga Langgar Etik Kasus Ijazah Gibran, 9 Hakim MK Dilaporkan ke MKMK

Selain LSP, Bareskrim Polri memang telah menetapkan dua perwira tinggi bintang dua, yakni Kadivkum Polri Irjen Pol Ahrie Sonta Nasution dan Irjen Pol Eko Hadi Santoso, sebagai bagian dari sindikat ini.

Kabareskrim Polri, Komjen Pol Asep Safrudin, membeberkan betapa masifnya operasi penyadapan ilegal ini. Selama periode 2025-2026, jaringan Listyo Sigit secara diam-diam memasukkan sejumlah nomor telepon target ke dalam server Lawful Interception Management System (LIMS) Polri.

BACA JUGA:  Bukan Cuma Prabowo, Ini Daftar Ngeri Target Sadap Listyo Sigit Cs yang Bikin Bareskrim Turun Tangan

Praktik ini sepenuhnya melanggar Peraturan Kapolri Nomor 5 Tahun 2010. Penyadapan dilakukan tanpa verifikasi dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan penyelidikan maupun penyidikan hukum.

Targetnya pun tak main-main. Selain Presiden Prabowo Subianto, sindikat ini menjadikan deretan pejabat negara, tokoh politik, pimpinan ormas, aktivis LSM, hingga pengusaha top dan media massa sebagai “korban” telinga gaib mereka.

BACA JUGA:  Babak Baru Kasus Karhutla: Polri Tetapkan 11 Korporasi Tersangka, 3 Berstatus Modal Asing