Sebagai Wali Kota yang menakhodai Batam di tengah derasnya transformasi informasi, Amsakar memanfaatkan momentum sakral ini untuk menyampaikan permohonan maaf yang tulus kepada seluruh lapisan masyarakat. Ia menyadari betul bahwa posisi sebagai kepala daerah membuat setiap gerak-gerik dan kebijakannya selalu berada di bawah sorotan publik.
Secara terbuka, Ia menggambarkan bagaimana dinamika opini publik yang selama ini menerpanya mulai dari tudingan pencitraan saat turun ke lapangan, dianggap sok akrab kala merangkul warga, hingga dipertanyakan perannya saat memilih diam. Namun, semua itu diterimanya dengan kelapangan dada sebagai konsekuensi logis dari sebuah kepemimpinan.
“Saya menerima semua itu dengan lapang dada. Kosekuensi sebuah kepemimpinan,” ujarnya.
Amsakar juga mengutip pesan mendalam dari tokoh bangsa, Buya Syafii Ma’arif, sebagai prinsipnya dalam memimpin Batam. “Saya teringat pesan Buya Syafii Ma’arif, ‘Kritik adalah vitamin bagi yang menjalankan kekuasaan.’ Oleh sebab itu, berbagai sudut pandang tersebut, saya jadikan sebagai suplemen. Energi tambahan untuk terus melangkah dalam menjalankan roda pemerintahan dengan sebaik-baiknya demi Batam Maju untuk semua kalangan.”
Dengan kerendahan hati, ia memohon keikhlasan maaf dari warga Batam jika selama mengemban amanah terdapat keputusan yang tidak memuaskan semua pihak atau kekhilafan dalam berinteraksi.













