Menurut Kwin Fo, koordinasi lintas unit, kecepatan respons di lapangan, serta penerapan standar keselamatan kerja menjadi kunci utama menjaga stabilitas sistem kelistrikan selama masa siaga Nataru.
“Keselamatan kerja tetap menjadi prioritas utama, terutama menghadapi potensi cuaca ekstrem. Seluruh personel menjalankan tugas sesuai SOP dan menjaga kesiapan fisik serta mental,” tambahnya.
Sementara itu, Vice President Operasi PT PLN Batam, Mohamad Tresna Wikarsa, menjelaskan bahwa sepanjang periode Nataru, sistem kelistrikan Batam–Bintan berada dalam kondisi aman dengan cadangan daya yang memadai.
Ia memaparkan, beban puncak tertinggi sepanjang 2025 tercatat mencapai 741 MW, sehingga masih tersedia cadangan daya sebesar 71 MW. Pada Hari Raya Natal, 25 Desember 2025, beban puncak berada di angka 589 MW dengan cadangan daya 223 MW. Sedangkan pada puncak perayaan Tahun Baru, 1 Januari 2026, beban puncak diperkirakan sebesar 580 MW dengan cadangan daya mencapai 232 MW.
“Dengan cadangan daya tersebut, sistem kelistrikan Batam–Bintan tetap terjaga dalam kondisi aman,” jelas Tresna.
Untuk mendukung keandalan pasokan listrik, PLN Batam menyiagakan 712 personel, yang terdiri dari pegawai PLN, tenaga alih daya, dan mitra kerja. Ratusan personel tersebut disebar di sektor pembangkitan, transmisi, dan distribusi, serta didukung peralatan operasional untuk memastikan respons cepat jika terjadi gangguan.













