Saat masa tugasnya habis, satelit ini dirancang untuk terbakar sepenuhnya ketika bergesekan dengan atmosfer bumi.
Astronom Jonathan McDowell mencatat bahwa dengan total lebih dari 10.000 satelit di orbit, tingkat pembakaran satelit meningkat tajam. Bahkan, SpaceX dilaporkan sempat mendeorbit hingga 5 satelit per hari dalam periode tertentu.
Kejadian di Natuna ini hanya berselang tiga hari dari fenomena serupa yang menghebohkan warga Lampung dan Banten pada Sabtu (4/4/2026) lalu. Namun, untuk kasus di wilayah tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah memberikan penjelasan teknis.
Peneliti Ahli Utama BRIN, Prof. Thomas Djamaluddin, memastikan bahwa benda cahaya di Lampung-Banten bukanlah meteor alami, melainkan sampah antariksa berupa bekas roket Tiongkok.
“Itu adalah pecahan sampah antariksa. Analisis orbit menunjukkan bekas roket tersebut meluncur dari arah India menuju Samudera Hindia di pantai barat Sumatera,” jelas Prof. Thomas.
Pada ketinggian di bawah 120 kilometer, benda tersebut mengalami gesekan hebat dengan udara sehingga terbakar dan pecah, menciptakan pemandangan cahaya terang yang menyerupai meteor.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari otoritas terkait mengenai apakah benda yang terlihat di langit Natuna semalam adalah sampah antariksa yang sama atau satelit Starlink yang jatuh.













