Gudangberita.co.id, Bintan – Ada yang berbeda di tepi Taman Kolam, Kijang Kota, pertengahan Februari 2026 ini. Di tengah khusyuknya hari-hari awal Ramadan, sebuah pemandangan tak biasa mencuri perhatian mata yang memandang.
Bukan deretan pohon peneduh biasa, melainkan sapuan warna merah muda yang menyala lembut di antara rimbun hijau. Sakura tengah mekar, seolah membawa potongan musim semi dari Negeri Matahari Terbit ke tanah Bintan.
Kehadiran bunga legendaris ini bukan sekadar fenomena alam biasa. Di setiap kelopak yang mekar dan gugur menyentuh permukaan air kolam, tersimpan narasi panjang tentang sejarah, kerinduan, dan regenerasi yang terjaga selama puluhan tahun.
Kijang dan Sakura bukanlah kawan baru. Jauh sebelum hiruk pikuk swafoto media sosial, akar sejarah pohon ini menghujam hingga tahun 1942. Konon, seorang pria Jepang bernama Tanaka, pegawai Furukawa Co. Ltd—perusahaan bauksit di era pendudukan Jepang —menanam bibit pertama sebagai pengobat rindu pada kampung halamannya.
Namun, waktu sempat menggerus sejarah. Pada 2011, “sakura tua” yang menjadi saksi bisu perjalanan Kijang terpaksa ditebang demi keselamatan warga. Namun, ruh dari pohon itu tak dibiarkan hilang. Melalui tangan dingin Dewi Kumalasari Ansar, yang saat itu menjabat sebagai Ketua TP PKK Bintan, tradisi keindahan ini dilanjutkan.







