“Natuna dan Anambas adalah wilayah strategis nasional. Dengan potensi migas, perikanan, dan pariwisata yang besar, wilayah ini bisa menjadi provinsi terkaya di Indonesia,” ungkap Daeng dalam sebuah kesempatan di kediamannya.
Ia juga sempat mengeluhkan birokrasi perizinan yang jauh, di mana pajak seringkali tidak kembali secara maksimal ke daerah. Visi “Provinsi Natuna–Anambas, Kenapa Tidak?” sudah ia gagas sejak tahun 2002 melalui makalah yang diajukan di Pekanbaru.
Kabar kepergian Daeng Rusnadi memicu gelombang ucapan duka di berbagai platform media sosial. Salah satunya datang dari Hendri Kurniawan.
“Innalillahi wa innailaihi roji’un, telah berpulang ke rahmatullah Bapak H. Daeng Rusnadi. Semoga Allah SWT menerima amal ibadahnya dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran,” tulisnya.
Kepergian Daeng Rusnadi merupakan kehilangan besar bagi masyarakat Natuna yang mengenalnya sebagai sosok yang optimistis dan peduli pada kesejahteraan masyarakat pesisir.









