Via sempat berusaha kabur dan berteriak minta tolong ke kamar lain, namun nyawanya tak tertolong.
Niat Jahat Tersembunyi
Dalam pengakuannya, Iksan mengungkap bahwa di balik amarah dan panik, ada niat tersembunyi: mengambil kalung emas yang dikenakan Via.
“Rencana saya ambil kalungnya buat bayar utang ke saudara saya, Alim. Saya udah lama gak bisa bayar,” aku Iksan.
Rencana itu menjadi motif kuat, menjadikan kasus ini sebagai pembunuhan berencana. Emosi, kebutuhan ekonomi, dan mental yang labil menjelma dalam aksi sadis yang merenggut nyawa.
Kehidupan Keras Sejak Dini
Lahir di Tembilahan, 24 September 2005, Iksan bukan remaja biasa. Ia putus sekolah sejak SMP, bekerja sebagai nelayan, lalu sempat menjadi buruh serabutan di Nabire, Papua. Kini bekerja di galangan kapal PT Bandar Victory Sekupang, namun seluruh gajinya dipegang oleh pamannya agar tidak boros.
Anak ketiga dari empat bersaudara ini hidup dalam tekanan dan keterbatasan. Ia mengaku baru pertama kali “main perempuan” karena diajarkan oleh teman dan penasaran mencoba aplikasi kencan.
“Ternyata berujung begini… saya nyesal,” lirihnya.
Dihantui Rasa Bersalah… dan Arwah
Penyesalan bukan satu-satunya yang datang. Sosok Via, menurut pengakuan Iksan, menghampirinya dua kali dalam tidur. Tanpa suara, hanya tatapan yang membekas.










