“Saya lihat langsung, sangat menyayat hati. Anak ini menderita sebelum meninggal. Ada luka-luka yang menunjukkan kekerasan brutal,” ucap AKBP Robby dengan nada getir.
Setelah melakukan kekejaman itu, Doni sempat melarikan diri saat ibu korban berusaha mencari keadilan atas kematian tak wajar anaknya. Namun, pelariannya tak berlangsung lama. Dalam tempo kurang dari delapan jam sejak laporan masuk, Tim Resmob Satreskrim Polres Karimun berhasil meringkus Doni di Komplek Perumahan Permata Asli 1, Kecamatan Meral.
“Pelaku kami tangkap sekitar pukul 13.00 WIB, kurang dari delapan jam sejak laporan diterima,” ujar Ipda Kevin.
Kini, Doni telah ditahan di Polres Karimun untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Polisi mendalami motif dan kemungkinan adanya kekerasan lain yang belum terungkap.
Tragedi ini menggores luka dalam di hati masyarakat. Banyak yang bertanya, bagaimana mungkin kekerasan seperti ini bisa luput dari perhatian? Siapa yang bisa menyangka, dalam rumah yang seharusnya menjadi tempat teraman, seorang anak justru mengalami horor hidupnya?
Kasus ini menjadi alarm keras bahwa kekerasan terhadap anak bukan isu sepele. Ia nyata, terjadi, dan seringkali tersembunyi di balik dinding rumah. Di balik tawa anak-anak yang kita temui, bisa jadi ada luka yang tak terlihat.











